Sunday, November 7, 2010

Contribution to Our Nation (7) - Education (3)

Fasilitas Fisik yang Kurang Memadai

Masalah fasilitas fisik mungkin kita hampir tidak bisa berbuat apa-apa karena tentu saja akan sulit jika kita harus membantu perluasan lahan atau membantu mendirikan laboratorium yang baru. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa berbuat sesuatu. Kembali ke apa yang menjadi tujuan informatika, yaitu menghadirkan kenyataan ke dalam virtual, maka kita bisa membuat fasilitas yang tak mereka punyai dalam bentuk virtual.

Tentu saja tidak bisa semua hal dapat kita jadikan virtual. Sebagai contoh tidak adanya lapangan sepak bola atau matras untuk pelajaran olahraga, kita tentu saja tidak bisa menggantikannya dengan bermain permainan ini di komputer. Sebenarnya bisa saja kita menghadirkan realita hal ini yaitu dengan alat yang dinamakan virtual reality (alat yang dipakai di mata sehingga kita bisa melihat objek yang ada di layar dan dapat mendeteksi gerakan kita sehingga layaknya simulasi perang virtual di tempat seperti yang kita lihat di film-film), tetapi masih dibutuhkan dana yang besar dan saya rasa butuh waktu yang lama setingkat skripsi untuk membuat satu software saja. Mungkin dalam beberapa tahun ke depan ketika alat ini sudah menjadi sesuatu yang umum, kita bisa menggunakannya sebagai pengganti fasilitas fisik lapangan yang tidak memadai.

Kita bisa membantu dalam hal pengadaan laboratorium virtual dalam bentuk software komputer. Laboratorium yang idealnya ada yaitu laboratorium fisika, biologi, dan kimia. Jika kita lihat tujuan adanya laboratorium adalah menggabungkan aspek kognitif dan psikomotorik siswa. Siswa disuruh untuk mempraktekkan cara-cara melakukan sesuatu dan sebagai hasil akhirnya mereka disuruh menjawab pertanyaan atau menulis pengamatan mereka dalam kaitannya dengan pelajaran di kelas. Sebagai contoh di kelas kita diajarkan tentang macam-macam alat ukur seperti jangka sorong, milimiter sekrup, dan penggaris biasa untuk mengukur sesuatu dan tingkat validitasnya. Di laboratorium siswa disuruh mempraktekkan penggunaan alat-alat tersebut dan menghitung berbagai macam panjang dan ketebalan benda serta menulis hasil pengamatannya dan menjawab beberapa pertanyaan seperti apa bedanya dan apa kelebihan dan kekurangan setiap alat seperti yang telah diajarkan di kelas.

Kelemahan kita menghadirkan laboratorium dalam virtual adalah siswa kurang dapat dinilai aspek psikomotoriknya, misalnya apakah mereka dapat memegang dan menggunakan jangka sorong dengan benar. Kelebihannya adalah siswa dapat melakukan pembelajaran mandiri dan dapat berkreasi sesuka mereka. Sebagai contoh, di laboratorium kimia kita tidak boleh mencampur bahan-bahan sesuka kita. Takaran dan bahan yang boleh digunakan sudah disediakan oleh pihak laboratorium. Dalam software ini, siswa dapat mencampur dan berkreasi sesukanya karena jika terjadi ledakan atau kesalahan, kita tidak perlu takut terjadi hal-hal yang dapat membahayakan.

Mahasiswa informatika dapat dengan mudah membuat software seperti ini. Satu hal yang menjadi tantangan terbesar bagi mahasiswa informatika adalah untuk membuat software ini menjadi sesiatu yang baik dan mendekati realita, pembuatnya harus menguasai bidang yang dibuatnya. Orang awam akan melihat bahwa proses pembuatan software ini sulit karena jika berhubungan dengan kimia misalnya, akan ada banyak kombinasi jika bahan A dicampur bahan B dengan tingkat kepekatan dan volume yang berbeda. Sebagai orang informatika, saya ingin berkata bahwa sebenarnya mudah jika kita mengetahui rumus dasarnya dan membiarkan komputer yang menghitung hasilnya karena kita telah dilatih untuk mencari dan membuat rumus sendiri untuk memecahkan suatu masalah.

Kesulitan Pengadaan Buku Paket

Saya merasa sepertinya ada yang janggal disini, sekolah dapat menyediakan fasilitas laboratorium komputer tetapi tidak mampu membantu siswa dalam pengadaan buku paket. Saya berpikir tidak bisakah sekolah meminjamkan buku paket untuk satu semester kemudian buku paket itu dikembalikan lagi ke sekolah. Saya tidak tahu alasan mendetil mengapa tidak dilakukan saja seperti itu, tetapi saya punya solusi lain dengan memanfaatkan teknologi komputer yang mereka miliki.

Pemerintah sebenarnya telah menyediakan buku paket gratis dalam bentuk softcopy yang dapat diperbanyak dan dipergunakan secara bebas oleh masyarakat. Program ini dinamakan Buku Sekolah Elektronik. Pemerintah menyediakan buku-buku paket gratis untuk berbagai mata pelajaran mulai dari tingkat SD hingga SMA dan SMK. Sekolah dapat memberikan buku-buku dalam bentuk softcopy gratis ini kepada siswa-siswanya.

Keuntungannya adalah sekolah tidak perlu kuatir dalam menyeleksi buku-buku yang berkualitas yang beredar di pasaran karena disini pemerintah telah menyediakan buku-buku yang sesuai dengan kurikulum yang sekarang berlaku. Pula dalam satu mata pelajaran, misalnya biologi kelas X, pemerintah menyediakan lebih dari satu jenis buku paket. Kerugiannya adalah, tetap saja hal ini kurang membantu dalam proses pembelajaran karena tentu saja tidak praktis dan tidak dapat digunakan dalam ruang kelas. Mereka hanya bisa menggunakan buku-buku elektronik ini di luar kelas dan hanya bisa dibuka menggunakan komputer.

Akhirnya saya tetap menganjurkan pihak sekolah yang membantu dalam pengadaan buku paket ini. Sekolah bisa mencetak sendiri buku paket gratis ini dan dapat dijadikan asset untuk ke depannya. Jika membeli buku di pasaran relatif mahal, mungkin dengan mencetak sendiri dapat menurunkan sedikit biayanya. Sekolah dapat meminjamkan buku-buku paket ini secara gratis dan kemudian meminta siswa untuk mengembalikannya sesudah semester yang mereka jalani berlalu.

Kesimpulan Masalah

Sebagai mahasiswa informatika, kita bisa membantu banyak hal di bidang pendidikan. Kita bisa membantu untuk pengembangan perpustakaan digital, membantu membuat software pembelajaran, dan membantu mendistribusikan buku-buku gratis yang ada untuk melengkapi literatur sekolah. Sebagai mahasiswa non informatika pun kita bisa membantu mengembangkan apa yang telah dimulai oleh mahasiswa informatika dalam kasus di atas dengan berkontribusi dalam hal materi-materi yang diberikan.

Contribution to Our Nation (6) - Education (2)

Perpustakaan yang Tidak Memadai

Permasalahan pertama adalah tentang perpustakaan yang kurang dalam hal literatur (pengadaan buku-buku) dan juga pengelolaan administrasi lainnya. Pengelolaan administrasi yang dimaksud bisa berupa tidak adanya katalog pengguna, pencatatan yang masih asal-asalan, dan terbatasnya ruang penyimpanan buku. Ironisnya adalah walaupun pengelolaan administrasi ini dikategorikan buruk, terdapat komputer di perpustakaan tersebut. Alasannya sederhana, yaitu untuk memenuhi syarat akreditasi yang baru, dalam perpustakaan diperlukan pengelolaan secara elektronik.

Sungguh amat disayangkan jika ada komputer dan akses internet di dalamnya tetapi tidak bisa didayagunakan dengan baik. Sebagai mahasiswa Informatika seharusnya kita bisa banyak membantu dalam hal ini, yang paling mudah adalah dengan membuatkan sistem informasinya. Bagi mahasiswa Informatika, bukanlah hal yang terlalu sulit untuk membuatkan sistem informasi sederhana yang mencakup catalog, pencatatan administrasi (peminjaman, pengembalian, perpanjangan, denda), atau laporan administrasinya. Bisa dikatakan membuat sistem informasinya adalah “makanan” tiap semester. Kita tidak perlu secara khusus membuatkan sekolah tersebut sistem informasi, kita bisa saja menjadikan proyek semester kita seperti Basis Data Lanjutan, Sistem Informasi Perpustakaan, Teknologi Web, Pemrograman Java, Pemrograman .NET, dan banyak mata kuliah lainnya sebagai batu loncatan pembuatan sistem informasi untuk sekolah tersebut. Kita bisa membuatkan sistem informasi khusus untuk suatu sekolah tergantung dari apa yang dibutuhkan mereka, atau kita bisa membuatnya untuk umum dengan fitur-fitur dasar sehingga kita bisa mendistribusikannya dengan mudah ke semua sekolah yang membutuhkan.

Mungkin ada ketakutan kita akan sangat direpotkan ketika kita mendistribusikan sistem informasi kita dengan berbagai pertanyaan troubleshoot dan cara penggunaan. Mungkin ini yang seringkali menjadi kelemahan mahasiswa Informatika, kita pandai dalam membuat software tetapi tidak mau membuat manual penggunaan software kita. Jika manual yang kita berikan lengkap, hal ini akan memperkecil kita direpotkan setelah kita membagikan sistem informasi kita. Demikian pula kita bisa membagikan source code kita pada mereka beserta dengan penjelasannya sehingga mereka bisa mandiri dan jika ada tenaga ahli mereka bisa mengembangkannya sendiri sesuai dengan kebutuhan mereka di masa depan.

Bagi mereka mungkin masalah sistem informasi ini tidak seberapa berpengaruh karena mungkin jumlah buku-buku yang mereka miliki sangat terbatas. Jika banyak, bukan berarti ada bermacam-macam judul buku, tetapi karena satu judul buku mempunyai puluhan kopi karena ini adalah buku-buku yang disumbangkan oleh pemerintah. Di samping itu, mereka hanya mengalokasikan ruangan yang sempit untuk perpustakaan karena mereka harus mengalokasikan ruangan lain untuk kebijakan pemerintah yang baru, yaitu pengadaan laboratorium komputer yang cukup makan tempat.

Menanggapi masalah ini saya mengusulkan dibuatnya virtual library. Dengan semakin berkembangnya arus informasi, ada banyak buku baru yang diterbitkan tiap tahunnya. Di tahun 2009 saja, ada lebih dari satu juta judul buku yang diterbitkan di dunia. Tidak ada satu pun perpustakaan di dunia yang mampu menampung semua buku yang katakanlah diterbitkan pada abad ke-21 saja. Dibutuhkan tempat yang sangat besar untuk menampung semua buku tersebut. Untuk itulah ide virtual library ini muncul, salah satunya adalah untuk mempermudah akses dan membutuhkan tempat yang relative kecil karena bentuk penyimpanannya adalah berupa data elektronik.

Format yang paling banyak digunakan sekarang dalam penerbitan buku elektronik adalah PDF karena ini adalah format yang paling stabil dan baik dalam kompresinya. Saya tidak akan banyak membahas hal teknis seperti ini tetapi yang saya tawarkan di sini adalah untuk membuat virtual library berdasarkan PDF Viewer. File-file PDF disimpan di folder komputer local kemudian diakses melalui PDF Viewer ini sehingga data-data berlisensi yang tidak boleh dikopi sembarangan bisa tetap terjaga kerahasiaannya dan hanya bisa dibaca saja.

Dari apa yang saya jelaskan di atas, tampaknya tidak mudah untuk membuat sistem yang seperti itu dan butuh biaya yang mahal untuk melakukannya karena dibutuhkan seorang ahli. Di sini saya ingin berkata, percayakan saja hal ini pada mahasiswa Informatika. Saya berani berkata bahwa seorang mahasiswa Informatika yang sudah mumpuni akan dapat membuatnya dengan mudah entah itu dengan pemanfaatan template atau dengan library (bukan berarti perpustakaan tetapi istilah teknis Informatika untuk file yang tidak kita buat tetapi kita gunakan dalam penyusunan algoritma kita) atau dengan algoritma sendiri.

Jika sistem seperti ini sudah jadi, maka tugas kita selanjutnya yang dapat dilakukan oleh orang awam sekalipun adalah mengisi koleksi buku elektroniknya. Tentu saja kita tidak bisa mengisinya dengan file-file PDF “bajakan” karena itu sedikit banyak akan berdampak pada pendidikan moral siswa. Kita harus berhati-hati dalam memilih koleksi buku elektronik kita karena tidak semua buku elektronik yang dapat di-download secara gratis dari internet dapat didistribusikan secara gratis walau pada situs sharing buku seperti Scribd atau OnlineBook misalnya. Tetapi juga tidak semua buku elektronik yang memiliki label copyright tidak bisa di­-download gratis karena ada beberapa buku elektronik lama yang oleh pengarangnya memang diijinkan untuk didistribusikan walau mungkin ada beberapa syarat.

Cara yang paling mudah menghindari file-file yang tidak berlisensi adalah dengan tidak melakukan download pada situs-situs sharing karena walaupun ketika melakukan proses upload sudah diberi syarat bahwa dokumen yang dimasukkan harus berlisensi gratis, tetapi masih saja ada orang yang tidak bertanggung jawab. Lebih baik jika mencari file-file yang gratis dari situs pengarangnya ataupun penerbitnya langsung.

Kembali lagi masalah bersediakah kita meluangkan waktu kita untuk mencari dokumen-dokumen yang berlisensi daripada langsung memilih download di tempat yang tak dapat dipercaya. Ada banyak penerbit dan pengarang yang memberikan buku-bukunya secara gratis dengan beberapa syarat yang sangat mudah, seperti tidak mencetaknya dalam bentuk hard copy, atau digunakan untuk kepentingan pribadi saja tanpa memberikannya pada teman, atau boleh diambil dan disebarluaskan tetapi dengan tidak mengubah isi.

Ada banyak sekali situs-situs yang menyediakan jasa buku elektronik gratis baik dalam Bahasa Indonesia maupun bahasa asing. Berbagai kategori seperti tutorial, novel, komik gratis, buku-buku sastra, bisnis, filsafat, agama, dan sebagainya dapat Anda temukan jika Anda mau mencari. Saya ingin membagikannya di sini tetapi saya harus menahan diri karena menurut saya essay ini sudah lebih panjang dari essay standard. Saya tak bosan-bosannya mengulang hal ini, cari dan berusaha keras mencari.

Contribution to Our Nation (5) - Education (1)

Pendahuluan

Jika ditanya kontribusi mahasiswa di bidang pendidikan, paling banyak jawabannya adalah belajar rajin menggapai cita untuk kemajuan bangsa. Jika mahasiswa tersebut aktif di organisasi dan hubungan masyarakat, mungkin jawabannya adalah akan mengajarkan ilmunya untuk anak-anak dari sekolah yang agak kurang berkembang. Tentu saja hal tersebut benar adanya, negara butuh kontribusi kita di masa depan sesuai dengan bidang kita dan sekolah yang kurang berkembang juga butuh bantuan kita dalam kegiatan yang kita selenggarakan sebagai pelengkap media pembelajaran yang notabene fasilitas yang mereka miliki masih kurang. Sebenarnya jika kita ingin berpikir serius, akan ada sesuatu yang dapat kita berikan saat ini juga sesuai dengan bidang kita. Apalagi jika kita menguasai bidang teknologi informasi yang saat ini sedang berkembang di berbagai bidang, ada banyak hal yang dapat kita kerjakan.

Kita tidak akan membahas permasalahan di bidang pendidikan berdasarkan statistic mutu pendidikan atau statistic mutu fasilitas penunjang pendidikan Indonesia. Kita akan mulai dari pengamatan lingkungan di sekitar Universitas Kristen Petra dimana saya menjalani pendidikan strata satu saya. Jika kita tanggap, di lingkungan Siwalankerto saja terdapat lebih dari tiga puluh instansi pendidikan pemerintah dan swasta yang meliputi SD, SMP, SMA, dan SMK. Ketika saya dan beberapa rekan saya melakukan survey dalam rangka program Himpunan Mahasiswa dan pengaplikasian mata kuliah, saya menemukan kesamaan masalah yang mereka hadapi. Jika disimpulkan, ada tiga permasalahan utama yang mereka hadapi, yaitu perpustakaan sebagai pusat pembelajaran mereka yang sangat kurang dalam hal literatur dan pengelolaan, fasilitas fisik seperti lapangan dan laboratorium yang pendanaannya kurang, dan kemampuan ekonomi siswa dalam hal pengadaan buku-buku paket atau alat pembelajaran lainnya.

Sepertinya hampir tidak mungkin menanggapi masalah di atas dalam bidang teknologi, tetapi justru di sinilah sebenarnya peran teknologi informasi. Tugas mahasiswa Informatika secara singkat sebenarnya adalah membawa kenyataan ke dalam virtual. Misalnya Microsoft Word adalah bentuk virtual dari menulis surat, Microsoft Excel adalah bentuk virtual dari proses penghitungan data, Database adalah bentuk virtual dari pencatatan data, Instant Messaging adalah bentuk virtual dari komunikasi verbal kita dengan orang lain, dsb. Mahasiswa informatika menghadirkan bentuk virtual dalam software-nya sehingga menjadi teknologi informasi. Teknologi informasi inilah yang kemudian dapat dipakai seorang awam untuk mewujudkan keinginannya. Baik orang awam ataupun mereka yang menguasai bidang informatika dapat memberikan kontribusi dalam tiga permasalahan di atas.

Bidang pendidikan saat ini tidak bisa lepas dari teknologi informasi. Pemerintah Indonesia pun menyadari hal ini dan sejak beberapa tahun yang lalu telah melakukan program pengadaan komputer bahkan di desa-desa. Dengan kata lain saat ini semua sekolah, apalagi yang berada di kawasan Siwalankerto mempunyai komputer dan hampir semuanya memiliki laboratorium komputer walau masih kurang memadai baik dari segi kualitas dan kuantitasnya. Kita tidak lagi perlu kuatir bagaimana membawa teknologi informasi dalam bidang pendidikan mereka walau dalam beberapa aspek pengembangannya tentu saja ada yang perlu diperhitungkan.

Saturday, November 6, 2010

Contribution to Our Nation (4) - Copyright, License, and Patent (3)

Masalah Sistem Operasi

Hal berikutnya adalah mungkin kita sudah berintegritas dengan software dalam komputer kita, tetapi akan sama saja jika sistem operasi yang kita gunakan adalah “bajakan”. Bagi pengguna laptop dan sejenisnya mungkin hal ini tidak masalah karena biasanya harga laptop yang dibeli sudah termasuk mendapatkan lisensi sistem operasi yang digunakan di laptop tersebut, tetapi hal ini merupakan masalah umum yang ada dalam PC / Desktop (komputer rumah atau kantor). Solusi yang dapat saya tawarkan adalah menggunakan Linux, tetapi kebanyakan orang begitu mendengar hal ini akan langsung berpikir apatis dengan berbagai kesimpulannya. Padahal apa yang mereka tahu itu kebanyakan adalah “mitos” yang dikeluarkan oleh orang-orang yang bahkan mungkin tidak pernah menyentuh apa yang bernama Linux.

Kebanyakan orang berpikir adalah menggunakan Linux itu sulit dan layarnya hitam putih. Tentu saja hal tersebut sebagian benar dan sebagian salah karena Linux merupakan sistem operasi yang bersifat open source dan ada banyak varian karena dikembangkan oleh berbagai group. Saat ini kebanyakan Linux merilis dua versi, untuk desktop yang kebanyakan sudah bersifat GUI (seperti Windows tampilannya) dan untuk server yang memang masih berbasis command prompt (seperti program DOS) karena memang tuntutannya demikian. Beberapa contoh Linux terkenal yang sudah menggunakan GUI adalah Ubuntu, Mandriva, Fedora, OpenSUSE, dan Slackware beserta variannya.

Hal lainnya yang membuat mereka merendahkan Linux adalah ada banyak software yang dirilis untuk Windows tidak dapat digunakan di Linux. Memang hal tersebut tidak sepenuhnya salah karena memang demikian kenyataannya, tetapi kembali lagi masalah yang kita hadapi sekarang adalah kita tidak senang dengan perubahan dan tidak ingin mencari lebih banyak. Tadi saya berkata bahwa program Windows tidak bisa dijalankan di Linux tidak sepenuhnya salah karena memang sebenarnya program Windows bisa dijalankan di Linux dengan menggunakan emulator seperti Wine. Hanya saja mungkin caranya terkesan agak sulit bagi yang tidak biasa tetapi sebenarnya semuanya akan terasa mudah jika kita sudah terbiasa. Saya sebenarnya ingin menjabarkan lebih banyak tentang software gratis yang dapat dijalankan di Linux tetapi saya rasa essay saya akan menjadi semakin panjang jika saya melakukannya.

Masalah Download Audio Video

Hal yang sebenarnya gampang dilakukan tetapi butuh keteguhan hati adalah menghapus semua file audio dan video kita yang tidak berlisensi. Jika kita ingin bicara hingga tahap ekstrem, maka seharusnya semua CD dan DVD “bajakan” yang kita miliki, seharusnya dipecahkan dan dibakar semua karena kita tidak punya hak atasnya. Saya pun mengalami konflik seperti ini ketika ingin membuang semua yang bernuansa “bajakan”. Bukanlah sesuatu yang mudah apalagi bagi seorang kolektor audio video berbagai jenis seperti kebanyakan mahasiswa Informatika pada umumnya.

Saya akui memang sangat sulit untuk mengubah natur ini, prinsip ekonomi yang diajarkan sejak SMP “dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya” tampaknya telah tertanam dengan baik dalam hidup kita. Berbagai pengajaran agama dan etika berkaitan dengan hal ini tampaknya gagal menyadarkan kita. Saya tidak berpikir yang muluk-muluk dengan meningkatkan pendidikan moral atau agama atau seminar dalam hal ini, tetapi ada beberapa langkah praktis yang bisa kita coba. Prinsipnya hamper sama dengan masalah software dan sistem operasi, kita terlalu malas untuk mencari, padahal ada banyak yang ditawarkan secara gratis atau dengan harga yang murah.
  1. Jika kita tidak bisa mendapatkan lisensi dengan memiliki bentuk copy file, mengapa kita tidak mencoba melihatnya secara streaming melalui internet? Ada banyak situs legal yang menampilkan film-film terbaru di bioskop secara streaming, hanya jika ingin melakukan download harus menjadi anggota dulu yang artinya kita harus membayar. Tetapi jika dihitung-hitung biaya menjadi anggotanya cukup murah dengan fasilitas kita bisa download tak terbatas selama jadi anggota.
  2. Ada banyak situs TV maupun radio online yang dapat kita dengarkan. Jika kita ingin mendengarkan suatu lagu, kita bisa meminta penyiarnya untuk memutarkannya bagi kita walau mungkin cara ini tidak berarti kita bisa mendengarkannya secara langsung. Ada beberapa situs music yang dapat segera menanggapi permintaan kita hanya kita tidak bisa download lagunya. Pula TV online yang dimiliki oleh negara-negara tetangga biasanya menampilkan film yang baru-baru bahkan kalau beruntung kita bisa nonton terlebih dahulu sebelum film tersebut diputar di bioskop Indonesia.
  3. Jika kita menginginkan CD original, bukankah sekarang harga satu album CD sudah tidak terlalu mahal? Memang ada pengorbanan tetapi saya rasa pengorbanan sedikit ini layak untuk kita bisa mendapatkan hak mendengarkan. Ada banyak CD, VCD, ataupun DVD original yang berisi lagu-lagu sepanjang masa yang sedang diobral secara besar-besaran.
  4. Bersahabatlah dengan organisasi atau orang yang punya hak cipta akan produk yang kita inginkan, siapa tahu mereka berbaik hati memberikan lisensi pada kita. Saya sudah membuktikan hal ini, contoh saja saya memiliki banyak lagu Hillsong United yang terbaru yang bahkan waktu itu masih jarang ada “bajakannya” di internet karena saya mengisi kuesioner mereka dan mereka berbaik hati mengijinkan saya untuk download file lagu mereka. Saya juga memiliki banyak video ilustrasi dan berbagai buku PDF yang dijual secara komersial tetapi saya mendapatkan lisensinya karena saya kenal dengan pengarangnya dan biasanya jika ini menyangkut bidang keahlian kita mereka akan mau memberikannya secara cuma-cuma. Tetapi tetap kita harus bisa menjaga kepercayaan yang telah mereka berikan pada kita.
Kesimpulan Masalah

Saya hanya ingin berkata bahwa kata siapa kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang bermutu dengan cara yang legal. Ada banyak hal menarik yang dapat kita ambil secara gratis dari internet asal kita mau mencari.

Contribution to Our Nation (3) - Copyright, License, and Patent (2)

Masalah Software

Kembali ke dunia nyata, tentunya kita menganggap bahwa semua hal tersebut adalah nilai ideal dan sulit untuk direalisasikan dalam kehidupan kita saat ini. Jika hal tersebut berhubungan dengan music atau film, mungkin kita masih bisa untuk tidak melakukan “pembajakan”. Lantas bagaimana dengan software-software yang kita butuhkan untuk perkuliahan atau kerja kita? Kita butuh software tersebut dan untuk mendapatkan lisensinya secara legal kita membutuhkan banyak biaya. Terlepas dari kita mampu atau tidak mampu membayarnya kita merasa saying untuk mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah software. Jika hanya satu software mungkin tidak jadi masalah, tetapi kita membutuhkan bermacam-macam software. Pula software itu selalu berkembang, setidaknya dalam empat tahun akan muncul versi barunya atau bahkan tiap tahun muncul yang baru.

Secara ekstrem saya akan berkata jika memang kita butuh sekali software tersebut dan ingin menjaga integritas kita tetap utuh, maka memang kita harus membelinya dan keluar banyak biaya untuk hal tersebut. Akan tetapi disini saya memiliki solusi yang lain, yaitu dengan menggunakan open source software. Secara singkat, open source software merupakan software yang berlisensi dapat digunakan secara gratis dan kita dapat mengembangkan software ini sendiri jika fitur-fitur yang kita perlukan masih kurang. Hal yang perlu dipahami berikutnya adalah freeware. Secara pemakaiannya, freeware hamper sama dengan open source software, bedanya adalah open source software pasti merupakan freeware yang artinya dapat digunakan secara bebas tetapi freeware belum tentu open source software karena bisa digunakan secara gratis tetapi belum tentu developer mau membagikan source code-nya untuk bisa kita kembangkan sendiri sesuai dengan kebutuhan kita.

Berikut adalah beberapa contoh dari software yang sering kita gunakan secara “bajakan” dan solusi freeware-nya:
  1. Software pengolah data yang sering kita gunakan adalah Microsoft Office. Kita biasanya menggunakan Microsoft Office Word untuk pengolah kata, Microsoft Office Excel untuk pengolah data dan penghitungan, dan Microsoft Office Power Point untuk membuat slide presentasi. Solusi terbaik yang dapat saya tawarkan sebagai pengganti Microsoft Office ini adalah OpenOffice.org yang juga merupakan open source. Anda dapat menggunakan OpenOffice Writer, Calc, dan Impress sebagai pengganti Microsoft Office Word, Excel, dan Power Point. Tampilan dan fitur OpenOffice.org juga hampir sama dengan Microsoft Office 2003. Hingga saat ini OpenOffice.org juga masih dalam tahap perkembangan dan dapat dijalankan di Windows, Mac, dan Linux.
  2. Software Adobe Photoshop dan Corel Draw merupakan software yang biasanya digunakan untuk pengolahan gambar dan pembuatan logo pada umumnya. Solusi yang ditawarkan untuk software ini adalah GIMP (GNU Image Manipulation Program) yang dapat dijalankan di Windows, Mac, dan Linux. Tampilannya tidak jauh berbeda dengan Adobe Photoshop dan fitur-fiturnya menurut saya merupakan gabungan dari Adobe Photoshop dan Corel Draw.
  3. Software database yang biasanya digunakan di bidang ekonomi adalah Microsoft Access atau yang biasanya digunakan dalam Informatika adalah Oracle atau Microsoft SQL Server. Tentu saja untuk perusahaan yang besar diperlukan suatu server yang kuat dan software yang kuat juga, tetapi untuk penggunaan kecil seperti perusahaan kelas menengah kebawah dan pembelajaran dapat menggunakan OpenOffice Base untuk bidang ekonomi dan MySql atau PhpMyAdmin untuk Informatika.
  4. Software CAD yang biasanya digunakan oleh mahasiswa Arsitek dan Interior adalah Autodesk AutoCAD dan tentu saja hampir semuanya adalah “bajakan” karena universitas tidak menyediakan lisensinya. Solusi freeware untuk software ini adalah FreeCAD. Memang software ini fiturnya masih kurang jika dibandingkan dengan raksasa Autodesk, tetapi sudah cukup untuk mensimulasikan rumah dan interior dalamnya. Saya rasa untuk pemodelan rumah, perkantoran, dan interiornya masih dimungkinkan, hanya jika ingin membuat proyek yang besar mungkin hasilnya masih tidak memadai.
  5. Software pengolah, penampil, dan konversi gambar sederhana yang biasanya digunakan adalah ACD See. Solusi untuk software ini adalah Irfan View. Dalam beberapa forum teknologi, performa Irfan View bahkan diyakini lebih baik dari ACD See. Solusi lainnya adalah FastStone Image Viewer atau FastPicture Viewer.
  6. Software pengekstrak dan kompresi yang biasanya sering digunakan adalah WinRAR atau WinZip. Banyak orang menganggap dua software ini adalah freeware karena dapat digunakan terus, tetapi sebenarnya yang kita gunakan adalah software trial (percobaan) hanya saja setelah masa percobaan selesai, kedua software ini bermurah hati tidak memblokir aksesnya dan menginginkan kesadaran kita pribadi. Tentu saja kita tidak boleh menyalahgunakan kemurahan hati ini sedang kita tahu ini salah. Solusi untuk hal ini adalah dengan menggunakan 7zip.
  7. Software burning CD dan DVD yang paling banyak digunakan adalah Nero, padahal ada banyak software gratis yang performanya tidak kalah baik seperti DeepBurner. Dari segi fitur memang berbeda jauh, tetapi fitur-fitur dasar dan penting tercakup semuanya termasuk juga burn ISO. Solusi lainnya adalah dengan menggunakan ImgBurn untuk kompresi CD atau DVD Shrink untuk membuat DVD.
  8. Software untuk membuat file PDF yang banyak digunakan adalah Adobe Acrobat Reader, ini bukan freeware (bedakan dengan Adobe Reader yang hanya digunakan untuk membaca file PDF). Solusi freeware untuk hal ini adalah dengan menggunakan FoxitReader atau PDFCreator yang juga merupakan open source.
  9. Software antivirus yang biasa digunakan adalah McAfee, Norton (yang biasanya merupakan bawaan laptop), dan Kaspersky. Banyak software antivirus yang menawarkan versi freeware dan tidak masalah bagi kita untuk menggunakannya asalkan tidak menggunakan crack atau key generator untuk upgrade ke premium yang kita tidak punya lisensinya. Solusi yang dapat diberikan dalam hal ini adalah menggunakan Avira Free Edition yang menurut forum teknologi merupakan Antivirus yang terbaik (walau yang dimaksud tentunya adalah Avira Premium, tetapi fitur yang ditawarkan Free dan Premium bedanya adalah jenisnya, bukan performa dalamnya).
  10. Software yang kita gunakan untuk download accelerator yang paling banyak digunakan adalah Internet Download Manager dan Download Accelerator Plus. Solusi untuk menanggapi hal ini adalah dengan Flash Get dan Free Download Manager yang performanya tidak kalah baik.
Masih banyak software “bajakan” yang ada dalam komputer kita yang tentunya akan memakan banyak tempat jika dijelaskan semuanya. Satu hal yang saya percaya adalah apapun bentuk software yang Anda butuhkan selama itu adalah untuk penggunaan umum, Anda pasti akan bisa menemukan versi freeware-nya.

Masalahnya sekarang adalah bukan masalah sulit tidaknya dipakai atau interface yang kurang memadai dengan freeware atau open source software, tetapi apakah kita mau belajar hal yang baru atau tidak. Secara natur kebanyakan dari kita tidak senang dengan perubahan, kita sudah terbiasa akan suatu hal dan tidak ingin kita menggantinya karena kita sudah merasa nyaman dengan hal tersebut. Sebenarnya antara komersial dan freeware yang bergerak di bidang yang sama, jika dibandingkan maka fitur-fitur dasarnya pasti akan ada semuanya, hanya mungkin bentuk tampilannya saja yang berbeda.

Jika kita ingin menelaah lebih dalam, yang kita inginkan dari suatu software adalah output dari software tersebut. Menggunakan freeware ataupun software komersial jika dibandingkan dalam hal performa, ada banyak yang hampir sama performanya, tergantung bagaimana kita pandai mencari referensinya. Salah satu tips dalam mencari freeware dengan kualitas yang hampir sama dengan software komersial yang bergerak di bidang yang sama adalah besarnya organisasi tersebut. Dalam dunia internet ada banyak proyek yang dibiayai oleh perusahaan-perusahaan besar dan hampir semua itu jika diumumkan di sana berarti tujuannya kebanyakan adalah freeware.